Pages

Kamis, 27 Januari 2011

idealnya seorang murobbi



Tarbiyah Islamiyah adalah sebuah keniscayaan. Untuk membangun sebuah cita-cita besar Islam menggapai suatu khilafah Islamiyah tidak bisa dipungkiri bahwa ia harus dimulai dari lingkaran-lingkaran kecil halaqah. Lingkaran orang-orang yang mempunyai komitmen secara ikhlas untuk mengupgrade diri dan mengajak orang kepada kebaikan (dakwah). Lingkaran ini adalah sebuah mata rantai yang tidak putus, sambung menyambung dari Rasulullah SAW yang menghalaqoh para sahabat ra. Bukti otentik, bahwa kemenangan dan kejayaan Islam masa lalu telah diraih karena adanya suatu penanaman nilai-nilai Islam secara intens dan mustamiroh pada kelompok-kelompok liqo’ (halaqoh ataupun usroh).
Bagaimana keadaan sekarang? Ditengah carut-marut dan fitnah dunia yang membuat mata hati menjadi buta menuju sekularitas beragama (na’udzubillah) dan keterpurukan izzah dan degradasi akhlak umat islam, sesuai janji Allah tetap saja ada geliat pergerakan untuk menegakkan Diin ini. Halaqoh menjadi jantung tubuh dakwah ini agar ia tetap hidup dan berjalan sesuai koridor. Dari sini muncul permasalahan, bagaimana idealnya sebuah kelompok halaqoh terutama profil seorang murobbi agar terbentuk kelompok halaqoh yang dinamis sehingga dihasilkan kader muharrik dakwah yang militan.
Apakah semua orang bisa menjadi murobbi? Pergerakan mahasiswa di kampus dan di sekolah dan tuntutan keadaan membuat “kebutuhan murobbi” menjadi meningkat, dalam arti kuantitas. Namun sebenarnya untuk menjadi seorang murobbi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, seorang murobbi haruslah mengikhlaskan niatnya semata-mata mengaharap ridho Allah Swt tanpa paksaan (mungkin karena kebutuhan ada yang memaksa), dan tanpa keinginan duniawi lainnya. Sesuai dengan hadits arbai’in yang pertama tentang niat: sesungguhnya amalan itu bergantung pada niat. Perjalanan pembinaan yang diberikan oleh seorang murobbi dipengaruhi oleh setulus apa niatnya, yang juga akan mempengaruhi kualitas kelompok halaqoh yang dibinanya. Siapakah yang lebih baik keikhlasannya dari pada keikhlasan rasulullah Saw sebagai murobbi yang menghasilkan jundi da’wah muti’ah? Semoga kita dapat meneladani beliau. Tentunya keikhlasan adalah permasalan qolbu yang keadaannya mudah berubah, maka perbaikilah niat setiap saat.
Kedua, seorang murobbi adalah orang yang faham (alfahmu). Faham tidak hanya berarti banyak tahu, tapi juga bisa menyelami ilmunya, meresapinya dengan keimanan di dalam dada. Bukan seperti fuqaha yang terlalu kaku dengan fiqhnya atau sufi  yang sibuk dengan tasauf saja. Namun dapat memelihara keseimbangan diantara keduanya. Sang murobbi setidaknya adalah orang yang faham pentingnya ilmu, al-‘ilmu qobla ‘amal dan sang murobbi juga hendaknya orang yang mencintai keilmuan. Kepahaman yang kaffah diperlukan agar dalam kelompok halaqoh dapat membimbing mutarobbi dengan baik, menjawab permasalahan mutarobbi yang bisa jadi muncul secara mendadak dan aneh-aneh. Seorang murobbi harus dapat meluruskan dan mengarahkan jawaban sehingga tepat jawaban dan sasaran. Bisa jadi si mutarobbi menjadi berkurang minatnya karena mutarobbinya kurang bisa menjawab unek-uneknya. Walaupun sebenarnya dalam halaqoh pada prinsipnya adalah berkumpul untuk sharing (berbagi, terkesan bahwa semua merata dalam hal kafaah) tetap saja sang murobbi harus mempunyai nilai plus di mata para mutarobbi. Ilmu cara membina juga sangat diperlukan untuk menjadi murobbi. Implikasinya adalah bahwa seorang murobbi haruslah sudah menjalani tarbiyah semacam ini terlebih dahulu selain medapatkan ilmu dari buku mengenai cara membina atau melalui dauroh.
Status murobbi ideal dan sempurna tentunya dimiliki oleh Rasulullah Saw yang telah menegakkan Islam ini mulai dengan Liqo’ assabiqunal awwalun di rumah Arqom bin abil Arqom. Otomatis menjadi murobbi ideal merujuk kepada beliau dengan konteks “kekinian” yang disesuaikan dengan setiap zaman sehingga halaqoh dikemas menjadi apik dan menarik, karena halaqoh haruslah punya daya magnetis dulu sebelum diberikan pendidikan militansi. Hal luar biasa yang dimiliki oleh Rasulullah adalah bashiroh yang mampu melihat kebutuhan jiwa masing-masing sahabat ra sehingga interaksi beliau dengan para sahabat ra disesuaikan dengan kebutuhannya. Ketika Umar ra, Utsman ra, Ali ra, dan Abu Bakar ra duduk di sekeliling rasulullah Saw, setiap mereka merasa merekalah yang paling dicintai oleh rasulullah. Walaupun kita tidak memiliki bashiroh yang demikian namun sebagai murobbi hendaklah dapat mengenal (ta’aruf) mutarobbi dengan baik sehingga komunikasi dan transfer ilmu lebih intens. Dengan ta’aruf kita dapat memilih strategi apa yang akan kita pilih untuk halaqohnya serta dengan ta’aruf akan dapat membantu menyelesaikan masalah para mutarobbi.
Seorang murobbi bagaikan ayah, kakak, dan juga teman bagi mutarobbinya. Bagaikan ayah maknanya adalah bahwa seorang murobbi memberikan suatu perhatian khusus pada setiap murobbinya, karena setiap murobbi tentunya memiliki tipe dan kebutuhan yang berbeda. Menjadi seorang kakak berarti seorang murobbi harus mampu memberikan bimbingan kepada mutarobbinya. Sebagai seorang teman seorang murobbi lebih fleksibel dalam setiap pertemuan halaqoh sehingga tidak membosankan mutarobbinya namun tetap mencakup tarbiyah ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah.
Sebenarnya banyak lagi poin-poin yang harus dipenuhi untuk idealnya seorang murobbi. Jika poin-poin ini sudah terpenuhi mudah-mudahan sebuah halaqoh akan lebih dinamis dan berkualitas. insyaAllah.


Oleh:
Dhia Ulhaq
O7120125
Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

0 komentar:

Posting Komentar