Pages

Rabu, 09 Februari 2011

Debu yang Berterbangan


‘Serrrr’ , hati ini berdesir setelah menyelesaikan beberapa paragraf dari sebuah buku. Sebenarnya buku ini sudah kubaca dahulu sekali, tapi kali ini aku begitu memaknainya. Mungkin karena isinya mengingatkanku betapa keikhlasan itu adalah perkara hati yang sangat pelik. Sehingga Rasulullah pun mewanti-wanti para sahabat. Lalu bagaimana dengan kita yang begitu rawan dengan ketidakikhlasan? Zaman yang segala sesuatunya diukur dengan barometer pujian ataupun material atau selembar sertifikat? Berikut sepenggal tulisan yang berkesan itu

Telah diriwayatkan dari Thawus, ia berkata, “seorang laki-laki berkata, “Ya rasulullah, saya menempati posisi untuk menghadapkan keridhoan Allah, dan aku suka kalau kedudukanku dilihat orang.” Rasulullah Saw. Tidak menjawabnya dengan sesuatu apapun, sehingga turunlah ayat ini: “barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)

Suatu hari, seseorang mendatangi Ubadah bin Shamit lalu berkata, “Tolong terangkan kepadaku tentang apa yang akan aku tanyakan. Bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang shalat karena mencari keridhaan Allah dan senang dipuji, ia bersedekah karena ingin mencari keridhaan Allah dan senang dipuji, ia mengerjakan haji karena mengharapkan keridhaan Allah dan senang dipuji?”
Ubadah menjawab, “Ia tidak mendapatkan apa-apa. Sebab Allah Swt. Berfirman, “Aku adalah sekutu yang paling baik, maka siapa yang mempunyai sekutu selain Aku , maka seluruh amalnya untuk sekutu tersebut, Aku tidak membutuhkannya.”

Imam Ahmad mriwayatkan dari Syadad bin Aus ra. Bahwa ia menangis, lalu seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang menyebabkan engkau menagis?” lalu Syadad bin Aus ra. Menjawab, “Sesuatu yang kudengar dari Rasulullah saw. telah  membuatku menangis. Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “aku khawatir umatku terkena syirik dan syahwat yang tesembunyi.”

Lalu aku bertanya,”Ya Rasulullah, apakah speninggal Anda umatmu akan melakukan kesyirikan?”
Beliau menjawab,”Ya, namun mereka tidak menyembah matahari, batu, dan patung, akan tetapi mereka riya’ ‘ingin dilihat orang’ dengan amal-amalnya, sedangkan syahwatnya yang tersembunyi adalah bahwa seseorang dari mereka berpuasa dari pagi, lalu muncul keinginan syahwatnya, lalu ia meninggalkan puasanya.”

Telah diriwayatkan dari Anas ra. Bahwa Rasulullah Saw. bersabda,”Pada hari kiamat nanti, semua amal manusia akan diajukan kepada Allah dalam bentuk lembaran-lembaran yang diberi cap. Maka Allah berfirman, ‘buanglah ini dan ambillah yang ini.’para malaikat berkata,’Ya Rabb, demi Allah kami tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan.’maka Allah berfirman, ‘ sesungguhnya amalannya untuk selain Aku, padahal hari ini aku tidak menerima amalan kecuali yang ditujukan untuk mencari keridhaan ku (HR. Al-hafizh Abu Ya’la al-Maushili)

Apakah kita termasuk golongan orang-orang yang merugi? Beramal tapi sia-sia? Orang yang amalannya seperti debu yang berterbangan dipengadilan Allah? Na’udzubillahi min dzalik.

5 komentar:

Widodo Saputra mengatakan...

Subhanallah. Tulisan yang sangat menggugah jiwa yang materialistis ini. T.T

Dr. Zuhdy mengatakan...

merenung sejenak...
menghisab-hisab diri dan memojokkan diri ini untuk mengaku bahwa selama ini hanya sia-sia...
terlalu banyak sekutu dalam beribadah kepada-Nya...T.T

superdhiaulhaq mengatakan...

ikhlas itu memang susah akhi..
mari selalu kita perbaiki niat kita setiap saat

Widodo Saputra mengatakan...

iya akhi, sekali2 kita nangis bareng yuk.. T.T

superdhiaulhaq mengatakan...

T.T menangis karena takut pada Allah

Posting Komentar